SUATU HARI, Nasruddin menghadiri acara resepsi yang elegan dan memilih tempat duduk untuk tamu yang paling terhormat. Sang penjaga menghampiri dan berkata, “Tuan, tempat duduk ini diperuntukkan untuk tamu kehormatan.”
“Oh, saya lebih daripada itu,” jawab Nasruddin dengan percaya diri.
“Apakah Anda seorang diplomat?”
“Lebih dari itu!”
“Sungguh? Mungkin Anda seorang menteri?“
“Tidak, lebih dari itu juga“
”Oho! Jadi Anda-lah Sang Raja, begitu??” sang penjaga berkata dengan sinisnya.
”Lebih tinggi lagi dari Raja!”
“Apa?! Anda lebih tinggi dari Sang Raja? Tidak seorangpun lebih tinggi dari Sang Raja di sini!”
“Sekarang kamu mengerti. Saya adalah ‘tidak seorangpun’ itu!”, kata Nasruddin.
Ibroh :
>> Seseorang harus merendah terhadap hal-hal yang kecil.
>> Nasruddin adalah seorang yang tanpa beban. Kecerdasan membuka jalan (untuk bisa duduk di kursi Raja).
>> Sebuah kata dapat memiliki banyak arti.
>> Semua makhluk sebenarnya sama dihadapan Tuan.
>> Hati-hati terhadap lidah yang cerdas, karena dapat memutarbalikkan keadaan.
“Oh, saya lebih daripada itu,” jawab Nasruddin dengan percaya diri.
“Apakah Anda seorang diplomat?”
“Lebih dari itu!”
“Sungguh? Mungkin Anda seorang menteri?“
“Tidak, lebih dari itu juga“
”Oho! Jadi Anda-lah Sang Raja, begitu??” sang penjaga berkata dengan sinisnya.
”Lebih tinggi lagi dari Raja!”
“Apa?! Anda lebih tinggi dari Sang Raja? Tidak seorangpun lebih tinggi dari Sang Raja di sini!”
“Sekarang kamu mengerti. Saya adalah ‘tidak seorangpun’ itu!”, kata Nasruddin.
Ibroh :
>> Seseorang harus merendah terhadap hal-hal yang kecil.
>> Nasruddin adalah seorang yang tanpa beban. Kecerdasan membuka jalan (untuk bisa duduk di kursi Raja).
>> Sebuah kata dapat memiliki banyak arti.
>> Semua makhluk sebenarnya sama dihadapan Tuan.
>> Hati-hati terhadap lidah yang cerdas, karena dapat memutarbalikkan keadaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar